Selasa, 18 Desember 2012

anak gunung jatuh cinta



SINOPSIS
Icha gadis belia keturunan darah biru yang terbiasa taat pada aturan keluarga dan patuh pada Ayah dan Ibunya tiba-tiba melawan orang tuanya!! Apa itu karena Kharlly seseorang yang sudah ia anggap sebagai Abangnya sendiri? Atau karena kegiatan Pecinta Alam yang terkenal keras dan brutal?
Lalu tiba-tiba muncul seseorang dari masa lalu Kharlly yang selalu memberi Icha mimpi indah. Tanpa Icha sadari ternyata seseorang itu berniat untuk menjauhi hubungan Icha dan Kharlly karena dendam masa lalu. Dapatkah Icha jatuh dalam perangkap seseorang dari masa lalu Kharlly?
Mana yang Icha pilih Kharlly –Abangnya- yang selalu berusaha untuk menjaga dan melindunginya, organisasi Pecinta Alam yang sangat disayanginya, Ayah dan Ibu yang selalu bersamanya, atau seseorang dari masa lalu Kharlly yang selalu memberinya mimpi indah?

BAB I
WELCOME MY NEW WORLD !!!

Kriiiiing….. Kriiiiing….. Kriiiiing…..
Jam wekerku berbunyi. Pagi ini aku bangun dengan penuh semangat menyambut hari baru yang terbentang dihadapanku. Mimpi yang sebulan ini aku nantikan untuk menjadi kenyataan. Harapanku untuk memakai seragam abu-abu ini. Yah, hari ini aku telah resmi menjadi salah satu siswi SMU dan atas alasan inilah aku sangat berbahagia hari ini.
“WELCOMEEEEE….. MY NEW WORLD!!!!!” teriakku Pagi ini dengan penuh semangat, tanpa mempedulikan apa tanggapan dari orang-orang rumah atas teriakkanku Pagi ini.
Aku berlalu ke kamar mandi dan mandi sekenanya, mencoba seragam baru, dan turun ke bawah untuk sarapan.
Tepat pukul 06.30 aku telah siap Pagi ini. Tidak seperti saat aku SLTP dulu, biasanya pada jam-jam seperti ini aku masih berada di atas tempat tidur untuk menyelesaikan mimpi yang belum tamat dan karena itulah saat aku duduk di bangku SLTP aku mendapat julukan ‘Mis.Late’.
“Ibu… Ayah… Icha berangkat dulu ya.” pamitku pada Ayah dan Ibu.
“Sarapannya dihabiskan dulu, Cha. Oya, Ibu sudah suruh Mang Ujang untuk mengantar kamu. Kamu berangkat sekolah sama Mang Ujang ya?” sahut Ibuku.
”Udah ya, Bu… Icha udah kenyang nih. Nanti malah muntah lagi. Oya, Mang Ujang kemana Bu? Mobilnya udah siapkan? Icha ga mau terlambat khusus hari ini nih. Inikan hari spesial Icha.”
“Mang Ujang udah di depan nungguin kamu dari tadi. Ya udah, kamu hati-hati di jalan ya.”
“Iya. Ibu… Ayah… Icha jalan ya.”
- oo0oo -
“Wah… Ini toh sekolah baruku.” gumamku.
“Mbak Icha, udah sampe. Nanti mau Mang Ujang tunggu atau gimana?” suara Mang Ujang membuyarkan lamunanku.
“Oh, eh… Iya, Mang Ujang pulang aja. Aku nanti pulang sendiri. Ga pa pa kok. Itung-itung biar aku tau daerah sini. Atau nanti aku telepon ke rumah aja kalau aku kesasar.”
“Bener nih Mbak Icha. Nanti kalau Ibu tau gimana?” tanya Mang Ujang cemas.
“Udah, Mang Ujang tenang aja… Jam segini pasti rumah udah sepi. Ibu dan Ayah pasti udah berangkat kerja. Ade juga pasti udah dianter Mbak Siti ke sekolah.” ujarku memastikan.
“Ya udah, kalau gitu. Mang Ujang tinggal ya, Mbak Icha hati-hati.”
“Iya. Mang Ujang juga hati-hati di jalan. Hati-hati nabrak.”
- oo0oo -
Aku sampai di Aula tempat murid-murid baru dikumpulkan. Disinilah kami mulai dibagi menjadi dua belas kelompok dan mulai diberi berbagai macam tugas yang cukup merepotkan untuk MOS hari Senin esok. Mulai dari papan nama yang terbuat dari karton yang diberi foto ukuran postcard, topi toga yang terbuat dari karton, kaos kaki panjang berwarna, rambut yang harus dikuncir dua belas dengan pita, tas yang terbuat dari kardus, dan masing-masing dari semua ‘item’ yang harus kami bawa, warnanya harus disesuaikan dengan warna kelompok kami masing-masing yang sudah ditentukan sebelumnya. Kami juga harus membawa permen dua belas warna yang dijadikan kalung dan gelang. Bagi kaum hawa, kami diwajibkan membuat ikat pinggang dari bunga plastik dua belas warna.
- oo0oo -
“Hai, nama loe siapa? Kita satu kelompok kan? Gw Kharlly.” sapa orang yang duduk di sebelahku.
“Gw Frischa. Tapi loe cukup panggil gw Icha. Emangnya loe kelompok apa?” sahutku sambil memperkenalkan diri.
“Mawar. Loe kelompok mawar juga kan?”
“Iya, wah kebetulan banget ya kita satu kelompok dan kebetulan juga gw suka mawar” jawabku.
Penting ga sih aku ngomong seperti itu ke orang yang baru aku kenal? Kesannya narcis banget deh!!
- oo0oo -
“Icha…!!!” teriak seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingku.
“Oh loe, Ly. Ngagetin gw aja. Emang ada apa?”
“Ga, gw Cuma mau nawarin loe pulang bareng aja. Kebetulan gw bawa motor. Tadi loe bilang rumah loe di daerah Galaxy kan? Kebetulan banget rumah gw juga di daerah itu. Mau bareng ga?” tanya Kharlly menawarkan diri.
“Wah, yakin nih gw ga ngerepotin loe?” tanyaku ragu-ragu untuk menerima tawaran Kharlly.
“Santai aja lagi!! Biar gw ada temen bareng. Bosen juga kan kalau harus nyetir sendirian.”
“Ok. Gw terima ajakan loe. Thanks banget ya.”
“Loe tunggu sebentar ya. Gw ambil motor dulu.”
- oo0oo -
“Oh… Rumah loe di sini, Cha? Berarti kita masih tetanggaan dong. Rumah gw tinggal dua blok lagi dari sini.”
“Ehm, maksud loe kita masih satu RW kan? Masih bisa dibilang tetangga sih. Tapi tetangga jauh.” ujarku menimpali.
“Iya juga sih. Oya, Cha! Gimana kalau besok kita buat perlengkapan untuk MOS bareng, mau ga? Kalau mau, besok gw ke rumah loe.”
“Boleh. Jam berapa loe mau ke sini?”
“Jam sepuluh. Loe udah bangun kan?”
“Pasti dong!! Ngomong-ngomong loe ga mau masuk ke dalam dulu? Itung-itung gw ngebalas kebaikkan loe hari ini.” tawarku.
“Gw mau langsung balik. Sorry ya, Cha. Besok kan gw ke sini lagi. Bye.”
- oo0oo -
“Icha… Icha…” panggil seseorang dari teras rumahku.
“Oh… Masuk. Lho kalian juga datang? Kok ga ngasih tau dulu?” sambutku kaget.
“Yaaa… Sepertinya kita tamu tak diundang nih. Kita pulang aja yuk.” ujar Trias memelas.
“Bukan gitu maksud gw… Tapi masuk dulu deh yuk. Nanti pada masuk angin lagi kelamaan di luar.” ajakku.
“Mau minum apa nih?” tawarku setelah tiba di dalam rumah.
“Yang adem, manis, dan berwarna.” sahut Fitrian.
“Oh… Cat tembok pake gula plus es ya? Wah boleh juga tuh menu baru. Bentar yah gw ambilin. Tapi harus dihabiskan loh.” ujarku menimpali.
“Nih pesanan kalian. Berwarna, adem, dan manis. Dihabiskan ya…” ujarku sambil meletakkan minuman dan cemilan di depan mereka.
“Kok kalian ga bilang dulu sih kalau kalian juga mau ke sini? Gw pikir cuma Kharlly yang mau ke sini. Jadi cemilannya kurang banyak deh.”
“Sorry, Cha. Si Kharlly baru kasih tau kita tadi Malam. Itu juga lewat SMS. Kebetulan juga rumah kita ga begitu jauh dari rumah loe. Ya kalo cemilannya kurang kan ada mini market di depan blok sini. Gw yang beliin deh.” jelas Trias.
- oo0oo -
Fitrian, Trias, Kharlly, Nicko, Mala, Wati, Sheila, dan Verni adalah teman-teman satu kelompokku untuk MOS besok. Sebenarnya masih ada beberapa orang lagi, tapi aku belum sempat untuk berkenalan dengan mereka. Untuk MOS tahun ini tiap kelompok terdiri dari lima belas orang, itu berarti aku masih belum kenal dengan enam orang lagi.
Dalam beberapa jam saja perlengkapan MOS yang akan kami bawa untuk hari Senin telah selesai dibuat. Memang benar kata orang tua zaman dulu…
“Pekerjaan yang dikerjakan bersama-sama akan cepat selesai dan tidak terasa berat.”
Selesai menyelesaikan perlengkapan untuk MOS esok, kami menyempatkan diri untuk santai sejenak dengan berbincang ringan dan bercanda. Setelah kami mulai menyadari hari sudah beranjak Sore, mereka berpamitan untuk pulang.
Tapi….. Walah apa hasilnya!? Rumah ini rasanya baru kejatuhan pesawat yang baru meledak. Super duper berantakkan!!
“Wah, bahaya nih kalau Ibu pulang. Pasti Ibu marah besar.” gumamku.
“Mbak… Mbak Siti… Aku minta tolong dong.” panggilku.
“Ya… Ada apa toh, Mbak Icha? Ada yang bisa Mbak Siti bantu?” tanya Mbak Siti.
“Iya nih, Mbak. Tolong bantuin aku beresin ruang tamu yang berantakkan ini ya, Mbak. Bisa mati aku kalau Ibu tahu. Pasti Ibu akan marah besar sama aku kalau liat rumah berantakkan kaya gini. Kita harus kerja extra cepat nih, soalnya setengah jam lagi pasti Ibu udah sampai rumah.” pintaku.
“Beres, Mbak Icha.”
“Makasih… Mbak Siti emang the best deh.” pujiku.
- oo0oo-



BAB II
MOS
(TIME FOR TORTURE?!?)
“Ibu… Ayah… Icha berangkat dulu ya.” pamitku pada Ayah dan Ibu.
“Ga ada yang ketinggalan kan, Cha? Coba kamu periksa lagi, ada yang kurang?” nasehat Ibu.
“Ehm, sebentar Icha periksa dulu, Bu. Rambut satu, dua, …, dua belas. Gelang dan kalung dari permen. Ikat pinggang dari bunga plastik. Papan nama. Kaos kaki panjang berwarna. Topi toga. And the last tas kardus. Perfect!! Udah, Bu. Semua udah lengkap. Icha jalan dulu ya.”
- oo0oo -
“Mang Ujang, makasih ya udah anterin aku. Tapi, hari ini aku mau pulang sendiri. Abis ini Mang Ujang langsung pulang ke rumah aja.” pintaku.
“Emangnya Mbak Icha mau kemana? Ga pa pa kok kalau Mang Ujang harus nunggu Mbak Icha sampai pulang sekolah jam berapa aja. Itu kan emang tugas Mang Ujang.”
“Mang… Aku udah gede. Malu kan sama temen-temenku, masa udah segede ini masih ditungguin. Bener kok, aku ga pa pa pulang sendiri. Abis ini Mang Ujang langsung pulang aja ya.”
“ Ya udah, kalau itu maunya Mbak Icha. Tapi kalau sampai Ibu tau jangan salahin Mang Ujang ya, Mbak.”
“Iya, nanti kalau Ibu sampai tau aku yang tanggung jawab. Mang Ujang tenang aja, Ok?!” ujarku meyakinkan.
“Mang Ujang langsung balik nih? Mbak Icha hati-hati ya. Kalau minta dijemput telepon ke rumah ya Mbak, biar Mang Ujang jemput.”
“Ya. Hati-hati ya, Mang.”
- oo0oo -
Sudah seminggu ini aku bebas dari awasan Mang Ujang dan sudah seminggu ini pula aku pulang bareng Kharlly karena kebetulan arah rumah kami yang searah. Dan… Sudah seminggu ini aku dikerjai oleh Kakak-kakak seniorku.
- oo0oo -
“R.A.Frischa Putriayudinoto. Nama panggilannya?” tanya Kak Hendra.
Hendra, panitia MOS, itu yang tertera dari name take-nya sehingga aku bisa tau siapa namanya.
“Icha.” jawabku.
“Icha, hari ini Kakak lagi sedih abis diputusin sama ceweknya Kakak. Kamu mau ga hibur Kakak? Kamu nyanyi ya buat Kakak.”
Idih… Urusan gw apa, loe diputusin sama cewek loe? Narcis banget sih nih cowok!! Sok manis lagi ngomongnya.
“Kok bengong. Ayo dong nyanyi. Apa aja deh lagunya terserah kamu.” suara Kak Hendra mengagetkanku.
“Eh, Iiiya… Aku tak mengerti apa yang ku rasa, rindu yang tak pernah begitu hebatnya. Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Meskipun kau tak pernah tahu.
Hanya lagu itu yang saat ini ada di dalam pikiranku. Sebab, Kak Hendra bilang dia kan baru putus sama ceweknya. Itu berarti cintanya lagi pupus, sama seperti lagunya Dewa. Aku rasa lagu itu cocok banget buat dia.
“Suara kamu bagus juga. Kursus vokal dimana? Tapi kamu tau ga? Lagu yang kamu nyanyiin tadi malah bikin saya tambah sedih!! Sekarang kamu hibur Kakak dengan bilang kalau Kakak yang paling ganteng di sekolah ini. Tapi yang kenceng ya biar semua pada denger.”
Hueks!!! Nih orang sadar ga sih apa yang dia omongin. Asli, bener-bener orang narcis!! Kenapa harus aku sih yang ngomong kaya gitu ke dia? Kesannya aku ngefans banget sama dia.
“Hei… Hello… Ada orang ga? Kamu seneng banget bengong sih.” ujar Kak Hendra mengagetkanku lagi.
“KAK HENDRA GANTEEEEEEENG!!!!!!! KAK HENDRA MANIIIIIIIS!!!!!!! KAK HENDRA KEREEEEEEEN!!!!!!! Udah kan Kak?”
Itu mungkin belum seberapa dari kejadian yang aku alami sewaktu MOS. Ada hal gila lain yang harus aku lakukan seperti merayu pohon kelapa sampai pohon kelapa itu mau nerima aku jadi ceweknya. Tandanya, kalau pohon itu bergerak berarti jawabannya iya. Gila!! Selama satu jam aku ngomong ga karuan ngerayu pohon kelapa itu dan terus nunggu sampai tuh pohon kelapa goyang ditiup angin.
Terus aku disuruh nyium tiang gawang sebanyak sepuluh kali. Wah, monyong deh nih mulut gw!! Dan yang paling gila, aku disuruh minta bulu kakinya Kak Rico dan itung uban yang ada di kepalanya Kak Yudi.
- oo0oo -
Ini hari terakhirku MOS. Bebaslah aku dari berbagai hal gila yang harus aku lakukan yang menurutku semua berada di luar akal sehat.
Hari ini ada pertunjukkan dari masing-masing ekskul yang ada di sekolahku. Ada atraksi dari team futsal, team basket, team cheer leaders, team Paduan Suara, team modern dance dan terakhir dari team Pecinta Alam.
Masing-masing dari team tersebut menunjukkan kebolehan mereka. Namun, yang paling menarik perhatianku adalah team yang mengenakan jaket hijau dengan celana lapangan hijau yang sedang beratraksi di atas gedung yang berada di samping Mushalla. Mereka menunjukkan aksi turun dari lantai empat dengan menggunakan gaya Revolling, Trevolling, dan Australian Style. Mereka juga menyuguhkan permainan Flying Fox. Di akhir acara mereka memberi kesempatan kepada kami untuk mencoba Revolling dan Flying Fox.
Sebenarnya aku berniat untuk mencoba, namun sayang hari ini aku pakai rok jadi ga mungkin banget. Tapi aku kepengen banget buat mencobanya, sebab bagiku ini merupakan hal yang baru dan pertama aku liat. Mungkin mulai disinilah aku punya niat untuk masuk ke organisasi Pecinta Alam di sekolah ini.
- oo0oo -
Hari ini aku ada test IQ dan test EQ sebagai test untuk penempatan kelas. Untuk angkatanku tahun ini, kelas kami dibagi menjadi enam kelas dan hanya ada satu kelas unggulan. Untuk tahun pertama, kelas unggulan berisi siswa-siswi yang secara IQ dan EQ dapat dikatakan cerdas dan untuk tahun-tahun berikutnya kelas unggulan berisi siswa-siswi yang secara akademik dapat dikatakan sebagai siswa-siswi yang berprestasi.
Soal yang kami dapat cukup rumit dan dengan waktu yang relatif singkat kami harus dapat mengerjakan soal-soal tersebut.
Hasil test akan dibagikan seminggu kemudian dan pembagian kelas akan ditempel di papan pengumuman.
- oo0oo -



BAB VI
POINT OF EXTREME
(MY FIRST TROUBLE!?!)
“Cha… Rata-rata raport loe berapa?” tanya Nicko.
“Ga tau nih, Ko. Selama tiga semester, baru semester ini rata-rata raport gw turun drastis. Ternyata kelas dua ini lebih berat ya… Kalau tau kaya gini, harusnya semester kemarin gw ga berjuang mati-matian buat masuk kelas unggulan untuk yang ke dua kalinya.” sesalku pelan.
“Cha, loe ga bersyukur banget sih bisa masuk kelas ini. Banyak loh Cha yang mau masuk kelas ini.” ujar Verni sewot.
“Iya… Tapi kayanya gw mulai keteteran deh. Loe gimana, Ly. Nilai raport loe bagus?” tanyaku ke Kharlly.
“Stabil. Ga banyak perubahan.” jawab Kharlly santai.
“Udah deh Cha, loe tinggalin dulu aja PA loe itu. Nanti loe malah jadi ‘PA’ beneran lagi.” ujar Verni memberi saran dengan nada yang sedikit sewot.
“Kok jadi loe yang sewot sih, Ver?!”
“Habis…”
- oo0oo -
“Mbak Icha… Dipanggil Bapak. Mbak Icha ditunggu di ruang keluarga.” kata Mbak Siti yang tiba-tiba sudah berada di dalam kamarku.
“Ayah? Emangnya Ayah ada perlu apa sama Icha, Mbak?” tanyaku.
“Wah… Kalau itu Mbak Siti ndak tau. Mending Mbak Icha cepet turun ke bawah sebelum dimarahi sama Bapak.” saran Mbak Siti.
“Pasti ini karena nilai raportku.” pikirku.
“Ya udah, aku ke bawah deh. Oh iya, tolong buatkan aku segelas susu coklat dingin ya, Mbak. Diletakkan di kamar aja, di samping lap top.”
- oo0oo -
“Ada apa, Yah?” tanyaku hati-hati saat tiba di ruang keluarga.
“Kamu duduk dulu.” ujar Ayah.
Kulihat wajah Ibu sudah mulai cemas. Pasti ini ga hanya masalah nilai raportku, pasti ada masalah serius yang harus diselesaikan hingga Ibu berwajah cemas seperti itu.
“Kenapa nilainya bisa seperti ini, Mbak?” tanya Ayah memulai pembicaraan.
Aku tidak berani menjawab pertanyaan Ayah dan aku tidak pernah berani menatap wajah Ayah saat situasi seperti ini. Aku hanya duduk diam tidak bergeming dan menundukkan wajahku.
“Kamu sekolah untuk belajar atau untuk main, Mbak?” tanya Ayah kembali.
“Belajar, Yah.” jawabku pelan.
“Kalau untuk belajar kenapa nilai kamu bisa seperti ini? Ini bukti kalau kamu selama ini ga pernah belajar. Iya kan? Ayah dapat laporan dari Ibu, kalau kamu terlalu sibuk dengan kegiatan baru kamu. Apa itu namanya… Pecinta Alam? Kegiatan yang tidak bermutu!! Yang bisanya hanya naik turun Gunung, habis itu? Tidak ada lagi yang bisa mereka perbuat.” statement Ayah.
“Bukan. Kami tidak seperti itu, Yah. Banyak yang bisa Icha dapat dari mereka.” jelasku membantah statement Ayah.
“Jadi ini yang kamu dapat dari mereka? Melawan orang tua?”
“Bukan itu, Ayah. Kenapa Ayah ga pernah mengerti. Banyak yang dapat Icha lakukan sekarang. Icha sekarang jauh lebih mandiri. Icha sudah dapat masak, mencuci piring, mencuci baju Icha sendiri, dan mencuci sepatu Icha sendiri. Icha diajarkan untuk beragument dalam rapat yang mereka adakan. Icha diajarkan untuk bertanggung jawab, contohnya dalam setiap kegiatan Icha harus membuat proposal kegiatan dan LPJ kegiatan. Icha belajar mengenai management organisasi. Icha belajar mengenai birokrasi dan melobi atasan Icha, seperti melobi Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah untuk memberi izin kepada kami untuk melakukan suatu kegiatan. Icha belajar untuk menjadi seorang leader dan Icha belajar untuk menjadi orang yang liberal.” ujarku membela diri.
“Tapi kamu jadi tidak mengerti akan tugas dan tanggung jawab kamu yang sebenarnya. Kamu masih sekolah, Cha. Tugas kamu belajar.”
“Tapi, Yah. Belajar itu ga hanya di sekolah.”
“Pokoknya, Ayah dan Ibu ga mau kalau kamu masih terlibat organisasi itu lagi!!”
“Ayah… Ibu… Icha sudah besar. Biarlah Icha mencoba untuk menentukan kehidupan Icha sendiri. Biarkan Icha belajar untuk bertanggung jawab atas keputusan dan hidup Icha sendiri. Icha janji. Icha akan buktikan ke Ayah dan Ibu bahwa apa yang Icha jalani ini tidak akan mengganggu tugas Icha yang sebenarnya. Maaf Ayah… Ibu… Sudah Malam, Icha mau pergi tidur.” pamitku pada Ayah dan Ibu sambil meninggalkan ruang keluarga yang berubah menjadi menyeramkan itu dan menuju kamar.
- oo0oo -,/div>
“Ah… Segelas besar susu coklat dingin di Malam yang ‘scream’ ini memang nikmat dan menyegarkan.”
Kamar ini terasa tenang sekali. Aku ga tau apa yang mau aku lakukan. Hingga akhirnya aku membuka lap top ku, menyalakannya, dan dalam beberapa saat saja jari-jemariku sudah menari-nari di atasnya. Semua kepenatanku Malam ini kutumpahkan perlahan demi perlahan hingga jadi sebuah cerpen.
- oo0oo -
18122003. 01:54.
Sudah hampir jam dua Tapi kenapa aku belum ngantuk juga ya? Sebenarnya apa yang kupikirkan Malam ini? Kenapa aku jadi kangen sama Kharlly? Sudah seminggu sejak libur semester ini aku tidak bertemu dan berkomunikasi dengannya. Huh… Tapi libur masih dua minggu lagi.
- oo0oo -
“Morning my Lil Sista… What’s up, bro?” suara Kharlly mengangetkanku di awal Pagi di Semester yang baru ini.
“Morning too my Big Brotha… Tumben loe ceria banget Pagi ini. Abis sarapan mercon ya?” candaku.
“Weits… Pagi baru nih!! Di tahun baru dan semester yang baru pula, ga salah dong kalo gw memulainya dengan keceriaan. Biasanya kalau kita memulai hari baru dengan senyum dan keceriaan, maka hari-hari kita yang berikutnya akan menjadi sangat indah.”
“Iya deh, Pujangga…” sahutku mengalah daripada jadi panjang masalahnya nanti.
Susah kalau aku mau berdebat dengan Kharlly. Kata-katanya selalu saja membuat aku dibuatnya ‘scak match’.
- oo0oo -
“Cha, loe mau ikut acara nanti Malam ga?” tanya Kharlly di kantin pada istirahat ke dua ini.
“Ikut loe kemana? Emangnya nanti Malam ada acara apa, Ly?” tanyaku.
“Kayanya loe lupa ya? Today is Anniversary of our Organization.” Kharlly menjelaskan.
“Oh God!! Asli gw lupa. Thanks ya udah ngingetin gw. Ga tau deh gw bisa apa ga. Emang acaranya jam berapa?”
“Jam 19.00. Nanti Malam gw jemput loe deh.”
“Wah wah wah… Kayanya nanti Malam ada yang janjian untuk kencan neeeh… Pantesan kita-kita ga diajak.” celetuk Wati yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku sambil membawa semangkuk bakso dan segelas es teh manis.
“Thanks ya, Wat. Kok loe tau sih kalau gw lagi lapar.” kataku sambil menggeser mangkuk bakso yang tadi dibawa Wati ke arahku.
“Ge-er!!! Emang siapa yang mau traktir loe? Sana gih pesen!! Makanya jangan sibuk bokinan.” omel Wati sambil merebut kembali mangkok baksonya dariku.
“Cha, sini deh. Ada yang mau gw omongin sama loe…” tiba-tiba tangan Verni menarik tanganku sampai di pojok kantin.
“Kenapa, Ver?” tanyaku.
‘Bener loe udah jadian sama Kharlly? Kok loe ga kasih tau kita-kita sih kalau loe berdua udah jadian.” Verni mengintrogasiku layaknya seorang wartawan yang sedang mewawancarai artisnya.
What?!!? Aku jadian sama Kharlly? Dapet gossip dari mana nih anak? Ga mungkin banget aku bisa jadian sama Kharlly. Walaupun dia beliin aku pesawat dan jet pribadi kaya punya Britney Spears saat nembak aku, ga akan aku terima!! Aku tau borok-boroknya Kharlly sampai yang udah jadi koreng juga aku tau. Jadi ga mungkin banget!!
“Loe dapet gossip dari mana,Ver?” tanyaku pada Verni sambil memasang muka jutek pada pertanyaannya yang hampir bikin aku mati shock.
“Kata anak-anak di kelas kita. Awalnya gw ga percaya, tapi setelah gw perhatiin selama beberapa hari ini loe cuma jalan berduuuaaa mulu sama Kharlly… Trus kita-kita loe cuekin. Jadi ga salah dong kalo gw jadi percaya sama omongan mereka? Udah, kalo emang loe berdua udah jadian juga ga pa pa kok. Gw malah seneng, itu berarti hari ini gw bisa makan gratis sampe muntah.”
“Ya ampyun… Jadi loe lebih percaya sama gossip kacangangan itu daripada sama gw temen loe sendiri? Ga pa pa sih…” ujarku ngambek.
“Ga gitu, Cha. Loe-nya sih sibuk mulu sama Kharlly dan organisasi loe itu, jadi lupa sama kita-kita. Loe berdua udah ga pernah ngumpul bareng kita lagi dan ga pernah ada waktu setiap kita ngajak loe berdua jalan. Kita cuma kangen sama loe berdua…” Verni berusaha menjelaskan.
“Oh, my dear… Sory banget ya, Ver… Gw ga sangka kalau gw jadi sejahat itu sama kalian. Loe mau maafin gw kan?” kataku sambil memeluk Verni, segera melepasnya, dan melanjutkan kata-kataku kembali…
“Gw janji ga akan seperti itu lagi, tapi loe juga harus ngerti posisi gw ya? Dan satu lagi, gw sama Kharlly ga pernah jadian. He is just my Big Brotha… Balik kesana lagi yuk. Ga enak kan ninggalin mereka lama-lama…“ kataku manja sambil beranjak dari tempatku dan berjalan ke arah teman-temanku yang sejak tadi sedang asyik bercanda dan melahap makanan yang ada di depan mereka.
- oo0oo -



BAB VII
ANNIVERSARY
(LET’S GO TO THE PARTY !!!)

“Aduh… Kharlly mana sih? Katanya acara mulai jam tujuh Malam, tapi sekarang udah hampir jam delapan, kok dia belum datang juga ya? Jadi pergi ga sih? Yah, kalau kelamaan gini, luntur deh make up gw…” gumamku cemas menunggu Kharlly.
Abang Ganteng <081310662266>
Cha, gw dah sampe di dpn rmh lo… Cpt lo keluar dr persembunyian!!
Sent : 12-02-2004 19:45:47
Aku segera keluar dari kamarku, menuruni anak tangga, dan …
“Mau kemana, Cha?” tanya Ibu mengagetkanku.
“Eh, Ibu udah pulang? Icha mau pergi sebentar. Boleh ya, Bu?” jawabku dengan muka memelas.
“Mau kemana dan sama siapa? Ini sudah Malam, Cha. Kamu bisa pulang jam berapa nanti?” tanya Ibu lagi.
Dari nada dan cara berbicara, sepertinya Ibu akan melarangku pergi Malam ini. Tapi bagaimana dengan Kharlly? Aku jadi merasa tidak enak dengannya karena ia sudah menunggu aku di depan rumah.
Aduh… Bagaimana ini? Kalau aku jujur mau kemana Malam ini, pasti Ibu ga bakalan ngasih izin aku untuk pergi. Cari alasan apa ya?
“Ehm… Malam ini Icha diundang teman Icha ke acara ulang tahun. Rumahnya di dekat sini kok, Bu. Ibu juga ga usah khawatir, Kharlly udah ada di depan rumah kok. Dia yang jadi tukang antar jemput Icha Malam ini. Jadi, boleh ya Bu…” ujarku berbohong.
“Ya sudah. Tapi jangan malam-malam pulangnya ya, Cha. Sebelum jam sepuluh kamu sudah harus sampai di rumah.”
Mampus deh gw!!! Kena kutukan ga ya? Aku ga mau jadi Malin Kundang yang dikutuk Ibunya jadi batu. Tapi aku kan masih ngakuin Ibuku, berarti aku bukan Malin Kundang. Habis… Kalau aku ga cari alasan seperti ini, Ibu pasti ga kasih izin untuk pergi Malam ini.
- oo0oo -
“Ibu, Icha pergi dulu ya.” pamitku pada Ibu setelah berada di depan pagar rumah.
“Nak Kharlly, Tante titip anak Tante ya… Pokoknya Tante ga mau tau, sebelum jam sepuluh, anak Tante sudah harus ada di rumah.” ancam Ibu pada Kharlly.
“Iya Tante. Pokoknya Tante tenang aja. Malam ini aku yang jadi body guardnya Icha. Icha ga akan kenapa-kenapa deh…” canda Kharlly.
“Hati-hati ya, Nak.” ujar Ibu mengiri kepergian kami.
- oo0oo -
“Mobil siapa nih?” tanyaku pada Kharlly memulai pembicaraan.
“Oh… Ini mobil Kakak gw. Kebetulan lagi nganggur jadi gw pake. Sorry tadi gw kelamaan ya jemput loe? Gw nego dulu sama Kakak gw. Sama kaya loe, nih mobil ada batasan jamnya juga.” jawab Kharlly sambil tersenyum.
“Enak aja loe samain gw sama mobil!!” omelku kesal.
- oo0oo -
“Ly, kayaknya kita telat deh.”
“Bukan kayaknya telat. Tapi emang udah telat.”
“Mau masuk ga? Gw ga enak nih. Gila telatnya parah banget. Sekarang pasti tinggal makan-makan aja.” tanyaku.
“Udah masuk aja. Yang penting setor muka, makan, abis itu langsung balik. Cepet Cha, loe masuk duluan! Perut gw udah keroncongan nih minta diisi.”
Organisasi Pecinta Alam di sekolah ini sudah berdiri selama tujuh tahun dan perayaan hari jadinya yang ke tujuh ini tidak dirayakan terlalu mewah. Hanya acara potong tumpeng –aku melihat tumpeng yang sudah dipotong di atas meja tepat di tengah ruangan. Jadi tidak salah kan kalau aku mengambil kesimpulan ada acara potong tumpeng?- sebagai ucapan syukur sebab organisasi ini masih dapat berdiri dan makan-makan. Menunya juga tidak terlalu mewah, hanya nasi kuning dengan lauk ayam goreng, telur orak-arik, kering tempe, perkedel, lalapan, dan sambal. Desertnya hanya buah melon dan semangka. Acaranya pun hanya diadakan di Aula sekolah.
Tidak sedikit pula para alumni yang dulunya terdaftar sebagai anggota aktif -saat ini terdaftar sebagai anggota non aktif- datang ke acara ini. Jadi dapat pula dikatakan bahwa acara ini dijadikan sebagai ‘ajang reuni’ bagi para alumni dan anggota organisasi ini. Ya seperti peribahasa bilang ‘sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui.’
Aku tidak pernah menyangka sebelumnya. Ternyata para alumni yang dulunya pernah mengikuti organisasi Pecinta Alam di sekolah ini banyak yang berwajah tampan. Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui sepertinya berlaku juga untukku, sambil makan lihat cowok-cowok ganteng, siapa tau juga aku bisa kenalan sama salah satu dari mereka, dan siapa tau juga kalau salah satunya itu bisa jadi cowokku. He he.
“Kharlly. Loe Kharlly kan?” suara seseorang tiba-tiba mengejutkan kami berdua.

“Siapa, Ly?” tanyaku pada Kharlly saat melihat sesosok manusia tampan -mengenakan kemeja putih polos lengan pendek dengan celana panjang bahan dan sepatu kets berwarna hitam- yang tidak kukenal tiba-tiba memanggil nama Kharlly.
“Wildan!! Hei, what’s up, bro? Gila gw ga sangka bisa ketemu loe disini!! Ngapain loe disini?” sahut Kharlly yang mulai menyadari seseorang tersebut adalah sosok yang telah dikenalnya.
“Gw pikir loe lupa sama gw. Loe sekolah disini juga? Gw dulu ikut organisasi ini juga. Gilaaaa… Lama ga ketemu, ketemunya disini-sini juga. Loe ikut Pecinta Alam juga?” sahut Wildan menimpali.
“Yo i!! Wah loe senior gw dong!! Gw ga bisa geplak-geplak kepala loe lagi kaya dulu nih!! Loe ga banyak perubahan, Dan.” canda Kharlly.
Gila… Aku udah dianggep ga ada sama mereka. Hello… Tuan-tuan… Ada manusia manis di depan kalian ga digubris nih??
“Apaan sih loe!! Kita masih sama kaleee… Loe masih tetep temen gw, Jack!! Weits… Itu cewek loe ya? Wah, funky loe sekarang udah punya cewek!! Kharlly udah banyak berubah nih sekarang. Ya udah, kita kenalan dulu… Gw Wildan, loe?” ujar Wildan sambil mengulurkan tangannya setelah menyadari keberadaanku.
“Icha.” sahutku sambil tersenyum manis.
“Manis, Ly!! Pantes loe demen. Loe tau ga, Cha. Dulu Kharlly tuh paling males kalau ngomongin cewek. Dia terkenal cowok yang paling cool di sekolahnya. Apa katanya…?? Ehm… Misterius. Ya, misterius!! Dulu gw satu SMP sama Kharlly plus dia tuh tetangga gw. Jadi, sebelum gw satu sekolah sama Kharlly, gw udah kenal dia. Gw sama dia beda dua tahun.” kata Wildan menceritakan masa lalunya dengan Kharlly.
“Dia ade gw.” ujar Kharlly memotong pembicaraan Wildan sebelum mengarah kemana-mana.
“Ups… Sorry, gw ga tau. Seinget gw loe ga punya ade. Ehm, gw ngerti ade ketemu gede kan?? Ade, gimana Kharlly? Masih suka beler ga? Marahin tuh!! Kapan bisa gemuk kalau beler terus. Ha ha.” ledek Wildan.
“Nama gw Icha.” sahutku kesal karena Wildan memanggilku dengan ‘Ade’.
Semalaman ini Kharlly hanya mengobrol dengan Wildan sambil mengenang masa lalu mereka berdua dan aku… Ditinggalkannya begitu saja!! Ups… Bukan aku yang ditinggalkan mereka, tapi aku yang meninggalkan mereka. Semula aku duduk di samping Kharlly namun setelah aku menyadari kalau mereka berdua sedang ‘open memories’, maka aku memutuskan untuk meninggalkan mereka.
Pikiranku kacau balau saat ini. Banyak yang tidak aku ketahui dari masa lalu Kharlly. Kupikir aku sudah mengenal Kharlly luar dalam. Namun ternyata? Berkat Wildan aku mendapat sedikit gambaran mengenai masa lalu Kharlly. Sebenarnya aku masih ingin mendengarkan obrolan mereka sambil mencari tahu seperti apa Kharlly di masa lalu secara lebih jelas dan terperinci, tapi aku ngerasa ga enak. Nanti mereka berpikiran kalau aku tukang nguping dan mau tau pembicaraan orang!! Lebih baik aku menyingkir sebelum mereka minta.
Menurutku Wildan tampan. Secara fisik ia manis, putih, tinggi, wajahnya bersih, hidungnya mancung, tatapan matanya lembut, dan alisnya tebal. Cara berpakaiannya rapih dan sopan Namun cara bicaranya yang blak-blakkan yang dirasa kurang sopan yang menurutku menjadi nilai minus pada ketampanan wajahnya.
- oo0oo -
“Cha… Kita pulang sekarang yuk.” ajak seseorang yang tiba-tiba datang dan memotong pembicaraanku dengan Citra –temanku satu angkatan di organisasi Pecinta Alam ini-.
“Wildan mana, Ly?” tanyaku.
“Dia masih disana. Tapi tadi gw pamit duluan karena gw udah janji sama Ibu loe untuk nganter loe pulang sebelum jam sepuluh.” jawab Kharlly sambil menunjuk ke arah dimana Wildan berada.
“Citra, gw sama Kharlly balik dulu ya.” pamitku pada Citra.
“Hati-hati ya, Cha. Ly, loe ga mau ngobrol-ngobrol dulu sama gw?” ujar Citra centil.
“Lain kali aja deh, Cit. Gw lagi diuber-uber waktu nih. Bisa-bisa Cinderella gw berubah jadi Upik Abu.” canda Kharlly sambil melirik ke arahku.
“Sialan!! Siapa yang Upik Abu?” kataku kesal sambil memukul pundak Kharlly.
- oo0oo -

Kamis, 29 November 2012

angry birds


Ayah Mengapa Aku Berbeda ?

Sinopsis Novel Ayah, Mengapa Aku Berbeda? Karya Agnes Davonar (Penulis Novel SKUT)

oleh Sahabat Abadi Keke (Almarhumah Gita Sesa Wanda Cantika) pada 3 September 2011 pukul 20:22 ·
Bila semua teman-temanku bernyanyi, aku hanya bisa terdiam. Aku tidak pernah tau harus bagaimana mengatakan pada dunia bertapa aku sangat ingin seperti mereka, bisa mendengar dan bernyanyi layaknya kehidupan normal.
Sayangnya aku terlahir dengan keadaan tuli, lebih sadisnya terkadang mereka orang-orang yang tidak pernah mengerti perasaanku berkata kalau aku “ BUDEK” dan itu dituliskan di kertas untukkku tepat di meja belajarku di kelas.
Tapi aku tidak pernah merasa ingin membalas semuanya, karena aku sadar inilah hidupku dan inilah takdirku.
Dulu semasa kecil mungkin aku tidak pernah merasa beban ini begitu besar dalam hidupku, ketika menyadari aku beranjak remaja dan melihat aku berbeda diantara sahabat-sahabatku. Di depan mading sekolahku tertulis sebuah pengumuman pembentukan tim musik sekolah, aku ingin ikut dalam tim itu tapi sayangnya aku hanya bisa meratapi nasibku. Aku pun pulang untuk bertemu dengan ayah, aku terduduk dengan wajah penuh kesedihan,

Dalam duniaku, hanya ayah yang bisa mengerti apa yang aku katakan. Walaupun itu harus dengan bahasa tangan yang ia pelajari dengan susah payah.
Aku mengetuk pintu untuk memberi tanda aku ada di kamar untuk bicara dengan ayah, ia melihatku dan melempar senyum.

“ Angel, ayo masuk. Silakan duduk disini nak, ada apa? Bagaimana pelajaran kelas kamu hari ini?”
Aku tertunduk, lalu ayah mulai bisa membaca wajahku.
“ Apa yang terjadi nak, ceritakan pada ayah?”
“ Ayah mengapa aku berbeda dari teman-temanku?”
“ Dalam hal?” tanya ayah padaku,
Aku menangis dan usiaku saat itu hanya 12 tahun dan duduk di sekolah menengah pertama.
“ Aku tidak bisa bernyanyi, tidak bisa mendengar.. Mengapa ayah?”
Ayah melihatku sambil tersenyum,
“ Apakah kamu merasa bersedih karena itu?”
“ Ya, aku sangat bersedih.. Aku ingin seperti mereka.. Bisa bernyanyi dan mendengarkan indahnya musik..”
“ Mengapa kamu ingin menjadi seperti mereka?”
“ Karena aku ingin menjadi tim musik sekolah, aku ingin ayah..”
“ Kalau begitu lakukan..”
Aku terdiam tidak bisa membalas pertanyaan ayah kemudian ia bangkit dan mengajakku ke ruangan gudang di belakang rumahku, ia mulai membersihkan debu-debu di sebuah meja panjang yang tadinya kupikir adalah meja makan. Ternyata itu adalah piano klasik. Aku memperhatikanya dengan heran,

“ Ini adalah peninggalan ibumu sebelum ia meninggal setelah melahirkan kamu, ayah sudah tidak pernah mendengarkannya sejak kamu terlahir..”
“ Lalu..?” tanyaku.
“ kamu mungkin terlahir tanpa bisa mendengar dan bernyanyi. Tapi kamu terlahir dari rahim seorang ibu yang berjuang agar kamu ada di dunia ini dan ayah percaya, Tuhan memberikan kamu dalam kehidupan karena kamu memang layak untuk itu.”
“ Tapi aku cacat, tidak normal dan tidak akan pernah bisa mendengar musik? Bagaimana caranya aku bisa seperti teman-temanku.”
“ Sayang kamu memang tidak bisa mendengarkan musik, tapi kamu bisa memainkan musik?”
“ Bagaimana caranya?”
“ Ayah ada disini untuk kamu dan percayalah, musik itu akan terasa indah bila kamu merasakannya dari hati kamu. “
“ Walaupun aku tidak bisa mendengar..”
Ayah duduk dikursi dan menyuruhku memperhatikannya bermain piano, Ia menutup matanya lalu memainkan arunan toth piano itu.
“ Anakku, rasakanlah musik itu dalam hati dan kamu akan tau bertapa Tuhan sangat mencintai siapapun makluk yang ia ciptakan. Walaupun kamu terlahir dengan keadaan cacat dan tidak bisa mendengarkan suara musik itu dari telinga kamu.. Kamu bisa dengarkan lewatkan hati kamu..”
Ayah mengajakku untuk menyentuh setiap toth piano dan kami bermain bersama, aku memang tidak bisa merasakan apa suara music itu tapi aku bisa merasakan nada dari jari yang ketekan dan itu membuatku bersemangat untuk berlatih piano klasik, aku tau ibuku adalah seorang pemain piano sebelum ia meninggal saat melahirkanku. Aku pun berjuang untuk bermain musik dan perlahan aku mampu membuat sedikit alunan music yang indah. Semua itu kurasakan dalam hatiku, semua itu kurasakan dalam jiwaku.
Beberapa minggu kemudian, aku mulai berani mendaftar dalam tim musik sekolahku dan guruku menerimaku walaupun ia tau aku cacat tapi setelah aku mainkan piano dan ia terkesan. Aku tau semua orang melihatku dengan aneh, seorang teman bernama Agnes datang padaku.

“ Hai orang cacat, apa yang bisa kamu lakukan dengan telingamu yang tertutup kotoran?”
Yang lain tertawa dan menambah kalimat yang melukai hatiku,
“ Dia mungkin mau jadi badut diantara tim kita, biarkan saja..”
Ejekan itu berakhir saat guruku datang, mereka semua kembali ke posisi mereka masing dalam alat music yang mereka kuasai. Ibu guru pembimbing kelas musik bersikap hangat padaku, ia memperkenalkanku pada semuanya.
“ Anak-anak mulai hari ini Angel akan bergabung dalam tim kita, semoga kalian bisa berkerja sama dengan Angel ya..”
“ Ibu apa yang bisa lakukan untuk tim kita, dia kan budek?” ejek Agnes.
“ Agnes!! ibu tidak pernah mengajarkan kamu untuk menghina orang lain, jaga sikap kamu. Walaupun Angel cacat secara fisik ia juga memiliki perasaan, tolong kendalikan kata-kata kamu.”
Aku senang ibu membelaku tapi itu malah membuat semua membenciku, ibu mempersilakan aku memainkan piano, dengan gugup aku bisa bermain dengan baik. Tidak ada satupun tepuk tangan dari teman-temanku, hanya ibu guru seorang. Ketika kelas bubar aku mendekat pada ibu guru, aku menuliskan apa yang ingin aku katakan kepadanya, Ia membacanya.
“ Ibu , aku mundur saja dari tim, aku tidak mungkin bisa menjadi bagian dari mereka. Karena aku ini cacat. Mereka tidak akan menerimaku?”
“ Tidak sayang, jangan berkata demikian, kamu special, kamu berbakat, mereka hanya belum terbiasa, percayalah kalau kamu sudah sering bermain dengan mereka. Kamu akan diterima dengan suka cita. Jadi ibu tidak mau mendengarkan kalimat kamu ingin mundur..”
“ Tapi bu, aku takut bila membuat semua jadi kacau.”
“ Anakku, beberapa minggu lagi, sekolah ini akan merayakan hari ulang tahunnya, ibu percaya kamulah satu-satunya orang yang layak mengisi tempat di bagian piano, karena teman kamu Rika ( pianis sebelumnya) telah mundur karena sakit cacar”
Aku pulang ke rumah dan memberi kabar kalau aku diterima dalam tim musik sekolah, ayah begitu gembira menunggu saat-saat aku akan berada dipanggung, ia terus melatih permainan pianoku. Aku tidak pernah cerita bertapa aku sangat diremehkan oleh teman-teman se-timku yang hanya menganggap aku sampah yang tidak layak disamping mereka. Mereka sering memarahi aku dengan kata-kata kasar lalu mereka menghinaku sebagai gadis caca, hal itu terus terjadi disaat kami berlatih persiapan untuk panggung sekolah . Mereka tidak pernah peduli apa yang kumainkan bila benar, mereka selalu bilang salah. Padahal aku yakin aku benar-benar memainkan musik piano ini, sedihnya saat aku bertanya dimana letak kesalahanku yang mereka jawab lebih menyakitkan.

“ Kamu ini tuli dan budek, bagaimana bisa kamu tau alunan musik yang kamu mainkan itu benar atau salah? Kamu membuat aku muak dengan sikap kamu yang sok pintar dan mencari muka di depan bu guru.” Kata Agnes padaku.
Aku menangis mendengarkan kalimat itu, aku berlari pulang ke rumah dan satu-satunya kalimat yang kudengar hanya satu. “ Pergi kamu gadis cacat, jangan pernah kembali ke tim kami, kami tidak sudi menerima kamu dalam kelompok ini.”
Aku menangis hingga di depan rumahku dan ketika aku tiba di gerbang rumahku, sebuah mobil ambulan ada didepan rumahku dan membawa ayah. Aku mengejar perawat yang membawa ayah, ayahku tampak tertidur tanpa bicara, seorang tetanggaku berkata padaku.
“ Ayahmu terkena serangan jantung, kamu ikut tante saja. Kita pergi bersama-sama ke rumah sakit.”
Aku shock dan menangis! Bagaimana hidupku tanpa ayah? Sepanjang perjalanan aku terus menitihkan air mata. Ayah tidak sadarkan diri sejak sakit jantungnya kambuh, ia memang memiliki sakit jantung sejak menikah padahal usianya masih sangat muda. tiga hari lamanya aku menemani ayah yang tidak pernah sadarkan diri. Tiga hari pula aku tidak pernah ke sekolah, bu guru bertanya pada Agnes mengapa aku tidak masuk hari ini?”
“ Mungkin Angel merasa tidak sanggup lagi bergabung dengan tim kita, dia itu bodoh bu! Selalu melakukan kesalahan dan dia pergi begitu saja saat latihan dan tidak pernah kembali hingga saat ini.”
Ibu guru mencoba pergi ke rumahku, tapi tidak ada seorang pun orang dirumahku. Aku tau beberapa hari lagi perayaaan musik di sekolahku akan dimulai. Mungkin memang sudah menjadi garis tangan hidupku, aku tidak boleh menjadi tim sekolah. Padahal aku sudah berjuang maksimal berlatih piano di rumah. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menjaga ayahku karena ia lebih penting dalam hidupku, ia satu-satunya sahabatku yang bisa mengerti keadaan ku setelah ibu meninggal dunia.
Ya Tuhan jangan ambil ayahku, doaku setiap saat kepadanya
Seminggu kemudian,
Ayah tersadar dan melihat aku disampingnya. Ia tidak bisa bicara banyak, selain bertanya mengapa aku disini, mengapa aku tidak berlatih bersama tim musik disekolahku, aku berpura-pura berkata padanya kalau mereka memberikan aku izin menjaga ayah. Ayah marah padaku, ia bilang aku harus segera latihan dan ia ingin aku tampil disana.
“ Jangan pedulikan ayah saat ini, yang penting kamu harus bisa buktikan kepada semua orang kalau kamu bisa bermain musik dan tunjukkan kepada mereka kamu gadis yang sempurna ”
Aku tau itu berat, tapi aku tidak ingin ayah bersedih mendengar penolakkan sahabatku di sekolah, ia berjanji padaku akan lekas sembuh asal aku terus bersemangat latihan musik. Akhirnya aku pun pergi ke sekolah kembali dan masuk ke kelas musik. Ibu guru menyambutku dengan baik, dan langsung memintaku berlatih. Setelah ia pergi, Agnes dan kawan-kawan mendekatiku, mereka mendorongku hingga terjatuh.
“ Kamu itu makluk Tuhan paling menjijikan, jangan membuat tim kami malu dengan kehadiran kamu di tim music kami. tidak punya malu, padahal kami sudah mengusirmu..”

Aku terdiam, seorang teman mengatakan pada Agnes,
“ Percuma dia tuli, dia ga akan mendengarkan apa yang kita bicarakan.”
Agnes marah merasa aku tidak mendengarkan semua kemarahannya, Ia bersama teman-teman mendorongku hingga keluar ruangan, aku mengetuk pintu dan ketika tanganku berusaha membuka pintu, mereka menjepit tanganku tanpa ampun, aku berteriak kesakitan dan mereka tidak peduli
“ Astaga dia bisa menjerit juga ya.. kirain dia itu bisu, bisa teriak juga hahaha “ ledek mereka.
Mereka menyiksaku dan aku tidak berdaya. Tanganku terasa mati rasa, mungkin jariku patah. Aku meminta tetanggaku untuk membalut luka ini dan ia sangat terkejut dengan keadaanku. Aku berkata padanya aku terjatuh di jalan. Tapi aku tidak akan pernah menyerah untuk menjadi tim musik kelasku. Hingga hari itu tiba, dengan luka balut tanganku aku muncul di sekolah. Sebelumnya aku mengatakan pada ayah .
“ Ayah hari ini aku akan bermain musik dihadapan semua orang, ayah harus mendengarkan ya. “
“ Anakku, ayah pasti mendengarkan. Maaf saat ini ayah sedang sakit, ini adalah hari istemewamu. Tapi ayah sudah pikirkan bagaimana caranya. Ambil telepon genggam ayah dan biarkan itu menyala saat kamu mainkan.”
“ Baik ayah.” Aku menuruti ide cermerlang ayah.
Saat aku keluar ruangan, dokter mengatakan hal kecil disamping ayah “ Jantung anda melemah, anda harus terus berpikir positif sehingga cepat sembuh”
“ Anak saya akan manggung hari ini, itu membuat saya cemas”
“ Percayalah , anak anda adalah gadis luar biasa..”
Aku menangis menuju sekolahku, Saat aku tiba di sekolah, Agnes dan kawan-kawan melihatku dengan jijik. Sepertinya mereka tidak mau aku di panggung, mereka manarik bajuku dan menamparku di belakang panggung.

“ Pergi cepat, jangan pernah ada disini, kami akan tampil tanpa kamu. Cepat pergi? Sebelum ibu guru datang”
Tidak, aku tidak akan menyerah walaupun mereka menyiksaku. Aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain musik di acara sekolah. Karena mereka mendapatkan aku tidak menyerah, akhirnya mereka mengancam tidak akan tampil dan memaksa aku tampil seorang diri, mereka ingin membuatku malu.
“ Baiklah, kami tidak akan tampil. Dan silakan kamu tampil sendirian, jadilah badut diatas panggung..”
Aku tidak mampu berbuat apa-apa ketika mereka mengikat rambutku layaknya orang bodoh, memoles mukaku dengan cat warna merah menyerupai badut sirkus. Aku tidak peduli, aku hanya ingin ayah bahagia dan menepati janji kepada ayah untuk tampil dalam panggung itu. Setelah puas mendandaniku seperti badut mereka pergi mendorong aku diatas panggung saat ibu guru yang bertugas menjadi pembaca acara memanggil tim kami dan aku muncul sendirian, mereka semua berlarian mengumpat.
“ DImana yang lain?” tanya ibu guru,
Aku terdiam, semua orang yang ada di bangku penonton menertawakan aku, mereka melihat badut yang sedang berada diatas panggung, aku sungguh tidak bisa berbuat-apa ap.
“ Astaga apa yang terjadi padamu dan yang lain pergi kemana? Kita tidak akan bisa menjalankan acara music ini.”

Aku mengambil kertas dan menuliskannya
“ Bu, izinkanlah aku bermain piano ini, aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain piano , ia sedang terbaring lemas di rumah sakit, jantungnya melemah hari ini, aku takut ia akan semakin buruk bila tau aku gagal bermain bersama tim musik di sekolah”
Ibu menatapku, ia sadar bertapa aku sangat sulit.
“ Baiklah mainkanlah piano ini, tunjukkan pada dunia kalau kamu adalah orang special dengan musikmu”
“ Terima kasih bu.”
Ibu guru memberikan kata-kata sambutan kepada penonton yang terus tertawa karena melihat badut sepertiku, tapi aku tidak peduli. Dengan keunggulan 3g, aku mengadakan video call dan ayah tersenyum padaku memberikan semangat, keletakkan telepon itu diatas meja piano.
“Tuhan bimbing aku agar semua berjalan dengan baik. Dan dengarkanlah musik ini..”
Setiap denting musik mulai memecahkan semua tawa yang awalnya menghujatku, menghinaku, arunan musik ini membawa perjalanan kisahku untuk berjuang menunjukkan pada dunia, aku memang terlahir cacat, aku tidak pernah tau apa artinya musik, tidak tau bagaimana suara burung, suara ayah bahkan tragisnya aku tidak pernah tau suara yang keluar dari mulutku sendiri.
Tapi aku percaya, aku tercipta bukan tanpa tujuan dalam dunia ini. ketika lagu itu usai kumainkan, semua berdiri dan memberikan tepuk tangan, aku menangis. ibu guru memelukku, aku ingin ibu menyampaikan pesanku kepada penonton.
“ Terima kasih, memberikan aku kesempatan untuk berada ditempat ini. Kini aku tau mengapa aku berbeda, karena Tuhan mencintaiku. Aku tidak akan marah pada Agnes dan teman-teman, aku bersyukur karena mereka mengajarkan aku tentang ketekunan dan ikhlas. Termasuk ayah, yang selalu bilang padaku “ kita tidak perlu merasa sedih dengan keadaan kita, bagaimanapun bentuknya. Karena Tuhan memberikan kita nafas kehidupan dengan tujuan hidup masing-masing”
Ya aku percaya itu.